BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk sistem agama dan politik,
adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan,
dan karya seni. Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri
manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya
dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu
dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat
kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku
komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan
sosial manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat
pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran
manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang
diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan
benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan
hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya
ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Melalui makalah ini, saya akan saya akan membahas tentang beberapa kebudayaan atau
tradsi yang ada di masyarakat Magelang.
B. Rumusan Masalah
a. Apa
saja kebudayaan atau tradisi yang ada di Magelang?
b. Bagaimana
pelaksanaan kebudayaan atau tradisi yang ada di Magelang?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk
mengetahui budaya dan tradisi apa saja yang ada di Magelang
b. Untuk
mengetahui bagaimana pelaksanaan seni,tadisi atau budaya yang ada di Magelang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tradisi Grebeg Gethuk Magelang
Gethuk adalah makanan khas Magelang yang
terbuat dari bahan dasar ketela pohon. Sementara, grebeg gethuk merupakan
rangkaian puncak memperingati Hari jadi Kota Magelang. Acara yang dipusatkan di
alun-alun itu selalu dinanti-nanti warga karena mereka bisa berebut menikmati
makanan khas itu dengan cara yang unik dan hanya diadakan setahun sekali.
Dalam acara itu, ratusan gethuk disusun
sedemikian rupa menyerupai miniatur gunung Tidar dan tower air minum yang
menjadi ciri khas kota Magelang. Gethuk gunung Tidar diwarnai dengan warna
hijau, sedang tower berwarna coklat serupa dengan tower di alun-alun. Dibanding
dengan tahun lalu, acara grebeg gethuk kali ini terkesan lebih sederhana, namun
secara keseluruhan acara tersebut terbilang meriah.
Tradisi ini biasanya dipimping oleh
walikota Magelang. sebelum memasuki lapangan upacara Walikota dikirab terlebih
dahulu dengan menggunakan kereta kencana oleh barisan prajurit berpakaian keraton. Mereka tampak berpakaian raja
dan ratu kerajaan jawa. Para seluruh tamu undangan dan peserta upacara pun
mengenakan pakaian adat jawa. Uniknya lagi, aba-aba upacara tersebut
menggunakan Bahasa Jawa.
Upacara tersebut dimeriahkan dengan
marcingklung yang dimainkan oleh siswa-siswi SMPN IV, dan Seni Tradisional
Trunthung serta Dayakan. Usai upacara, dilanjutkan dengan kirab budaya keliling
Kota. Kirab budaya berlangsung ramai karena diikuti pula marching band Canka
Lokananta dari Akademi Militer (Akmil) dan Liong Samsi dan kesenian tradisional
lainnya. Kirab dimulai dari Alun-alun kemudian menyusuri jalan Pemuda, Jalan
Tidar, Jalan Tentara Pelajar dan kembali ke alun-alun lagi. Acara tersebut
merupakan bentuk upaya untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa gethuk
adalah makanan asli Kota Magelang dan sudah menjadi ikon.
B. Tradisi Grebeg Gulai Kambing
Tradisi grebeg gulai kambing
merupakan tradisi yang biasa digelar oleh masyarakat Kampung Cacaban, Kecamatan
Magelang Tengah, Kota Magelang setiap bulan Dzulhijah, bulan besar untuk
kalender Islam. Menurut sesepuh desa
setempat, tradisi ini merupakan untuk menghormati leluhur desa yang telah
meninggal. Selain untuk nguri-nguri (melestarikan) tradisi yang sudah ada
secara turun-temurun.
Mengawali tradisi ini, warga mulai dari laki-laki, perempuan, dewasa, hingga anak-anak terlebih dulu berkumpul di lapangan Kwarasan kampung setempat. Khusus perempuan, bertugas membawa gulai kambing yang telah diwadahi kendil kecil atau semacam tempayan terbuat dari tanah liat.
Mengawali tradisi ini, warga mulai dari laki-laki, perempuan, dewasa, hingga anak-anak terlebih dulu berkumpul di lapangan Kwarasan kampung setempat. Khusus perempuan, bertugas membawa gulai kambing yang telah diwadahi kendil kecil atau semacam tempayan terbuat dari tanah liat.
Setelah itu, mereka berjalan
beiringan menuju makam sesepuh di Desa Tuk Songo, sekira satu kilometer dari
lapangan Kwarasan. Mereka melawati areal persawahan berkelok-kelok nan hijau
dan asri.
Suasana tradisional terasa begitu
kental karena mereka memakai pakaian adat jawa serta iringan musik gending jawa
Sesampai di makam, puluhan mangkuk gulai yang dibawa dijadikan satu ke dalam
kendil besar.
Selanjutnya kendil itu diserahkan
kepada penjaga makam. Kendil dan gunungan hasil bumi didoakan dan barulah
diperebutkan warga. Konon katanya Jika dapat membawa pulang dan memakan gulai
itu diharapkan bisa dapat membawa berkah.
Bersamaan dengan itu masyarakat
sudah banyak yang menunggu sambil duduk lesehan di atas alas atau tikar yang
dibawa dari rumah masing-masing.
Selain membawa tikar atau alas
untuk duduk lainnya, warga pun datang juga membawa tas yang berisi makanan, ada
yang berbentuk nasi kuning lengkap dengan lauk-pauknya, nasi putih dengan
beberapa lauk sayur-sayuran maupun jajanan buatan sendiri. Menurut kepercayaan
warga disana, tradisi ini merupakan wujud rasa
syukur warga kepada Sang Pencipta. Warga berharap akan diberi kemurahan rejeki
dan terhindar dari malapetaka .
C. Tradisi Kendurenan
Kenduren/ selametan adalah tradisi
yang sudah turun temurun dari jaman dahulu, yaitu doa bersama yang di hadiri
para tetangga dan di pimpin oleh pemuka adat atau yang di tuakan di setiap
lingkungan, dan yang di sajikan berupa Tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya.
Tumpeng dan lauknya nantinya di bagi bagikan kepada yang hadir yang di sebut
Carikan ada juga yang menyebut dengan Berkat.
Carikan/berkat
Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang di doakan, dan keluarganya,kenduren itu sendiri bermacam macam jenisnya, antara lain :
Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang di doakan, dan keluarganya,kenduren itu sendiri bermacam macam jenisnya, antara lain :
·
kenduren wetonan ( wedalan ) Di
namakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir ( weton, jawa
) seseorang. Dan di lakukan oleh hampir setiap warga, biasanya 1 keluarga 1
weton yang di rayain , yaitu yang paling tua atau di tuakan dalam keluarga
tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari ( 1
bulan ). Biasanya menu sajiannya hanya berupa tumpeng dan lauk seperti sayur,
lalapan, tempe goreng, thepleng, dan srundeng. tidak ada ingkung nya ( ayam
panggang ).
·
Kenduren Sabanan ( Munggahan )
Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaik kan para leluhur. Di
lakukan pada bulan Sya’ban, dan hampir oleh seluruh masyarakat di Watulawang
dan sekitarnya, khususnya yang adatnya masih sama, seperti desa peniron, kajoran,
dan sekitarnya. Siang hari sebelum di laksanakan upacara ini, biasanya di
lakukan ritual nyekar, atau tilik bahasa watulawangnya, yaitu mendatangi
makan leluhur, untuk mendoakan arwahnya, biasanya yang di bawa adalah kembang,
menyan dan empos ( terbuat dari mancung ). Tradisi bakar kemenyan memang masih
di percaya oleh masyarakat watulawang, sebelum mulai kenduren ini pun, terlebih
dahulu di di jampi jampi in dan di bakar kemenyan di depan pintu. Menu sajian
dalam kenduren sabanan ini sedikit berbeda dengan kenduren Wedalan, yaitu
disini wajib memakai ayam pangang ( ingkung ).
·
Kenduren Likuran . Kenduren
ini di laksanakan pada tanggal 21 bulan pasa ( ramadan ), yang di maksudkan
untuk memperingati Nuzulul Qur’an. dalam kenduren ini biasanya di lakukan dalam
lingkup 1 RT, dan bertempat di ketua adat, atau sesepuh di setiap RT. dalam
kenduren ini, warga yang datang membawa makanan dari rumah masing2, tidak ada
tumpeng, menu sajiannya nasi putih, lodeh ( biasanya lodeh klewek) atau
bihun, rempeyek kacang, daging, dan lalapan.
·
Kenduren Badan ( Lebaran )/ mudunan
Kenduren ini di laksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada
tanggal 1 sawal ( aboge ). kenduren ini sama seperti kenduren Likuran,hanya
tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur. TYang membedakan hanya,
sebelum kenduren Badan, biasanya di dahului dengan nyekar ke makam luhur dari
masing2 keluarga.
·
Kenduren Ujar/tujuan tertentu
Kenduren ini di lakukan oleh keluarga tertentu yang punya maksud atau tujuan
tertentu, atau ayng punya ujar/ omong. Sebelum kenduren ini biasanya di awali
dengan ritual Nyekar terlebih dahulu. dan menu wajibnya, harus ada ingkung (
ayam panggang ). Kenduren ini biasanya banyak di lakukan pada bulan Suro (
muharram ).
·
Kenduren Muludan Kenduren ini di
lakukan pada tanggal 12 bulan mulud, sama seperti kenduren likuran, di lakukan
di tempat sesepuh, dan membawa makanan dari rumah masing- masing. biasanya
dalam kenduren ini ada ritual mbeleh wedus ( motong kambing ) yang kemudian di
amsak sebagai becek dalam bahasa watulawang ( gulai ).
D. Tradisi Padusan
Padusan berasal
dari kata dasar adus, yang
berarti mandi. Padusan,
dalam hal ini bermakna proses aktivitas mandi. Dalam pengertian budaya, padusan merupakan tradisi masyarakat untuk
membersihkan diri atau mandi besar dengan maksud mensucikan raga dan jiwa dalam
rangka menyambut datangnya hari ataupun bulan istimewa, seperti bulan Ramadhan,
Hari Idul Fitri, dan Hari Idul Adha.
Dalam rangkaian penyambutan
Bulan Suci Ramadhan, ummat Islam di Nusantara memiliki beraneka ragam cara dan
tradisi. Khususnya bagi masyarakat Jawa, dalam berbagai kesempatan pengajian di
bulan Rajab, para kiai, ulama, dan ustadz dalam berbagai kesempatan pengajian
sudah mewanti-wanti dengan wasiat bahwa Rajab adalah
bulannya Allah, Ruwah atau Sya’ban adalah bulannya Rasul, sedangkan Ramadhan
adalah bulannya ummat Islam. Maka tradisi mengajarkan mulai bulan Rajab itulah
ummat Islam harus sudahancang-ancang mempersiapkan
diri akan datangnya bulan yang memiliki malam yang melebihi kemuliaan seribu bulan.
Jika
pada bulan Rajab diperingati peristiwa Isra’ Mi’raj, maka di bulan Ruwah ummat
Islam mengamalkan ajaran birul
walidain atau memuliakan dan
berbakti kepada orang tua, wabil
khusus kepada ruh orang tua
yang telah meninggal dengan cara mengirimkan doa dan memohonkan ampunan dalam
serangkaian acara sadranan atau nyadran.
Hal ini dimaksudkan agar pada saatnya Bulan Suci Ramadhan tiba, ummat Islam
sudah siap lahir dan batin untuk memaksimalkan amalan ibadah dan meraih
keutamaan-keutamaan hikmah bulan Ramadhan.
Karena
bulan Ramadhan merupakan bulan suci dan bulan yang sangat istimewa, maka
sebagai pintu gerbang untuk memulai serangkaian ibadah Ramadhan, manusia harus
mensucikan diri, baik jasmani maupun rohani. Inilah mengapa tradisi padusan hadir di tengah masyarakat.
Sebenarnya
tidak ada aturan khusus mengenai bagaimana melakukan padusan. Padusan pada
dasarnya hanyalah tradisi yang hidup di tengah masyarakat dan bukan sebuah
kewajiban yang harus dikerjakan dengan konsekuensi timbulnya dosa jika meninggalkannya.
Maka padusanpun ya sesederhana makna adus itu sendiri, mandi biasa sebagaiman
hari yang lain. Setiap ummat Islam melakukan mandi besar, adus komplit dengan keramasan dari ujung rambut di kepala hingga
ujung kaki. Maksudnya tentu saja untuk menghilangkan dan mensucikan diri dari
segala macam hadast besar ataupun hadast kecil.
Karena inti padusan adalah mandi, maka dimanapun manusia
dapat melakukan mandi besar, maka padusan dapat dilakukan. Padusan dapat dilakukan di kamar mandi, di blumbang, kedukan, mbelik,
sungai, sendang, telaga,
bahkan di tepian pantai.
Dalam tradisi padusan yang diwariskan secara turun-temurun
dari para leluhur, tidak ada ketentuan bahwa pelaksanaan padusan harus dilakukan oleh banyak orang pada
suatu tempat secara bersamaan. Padusan
ya masing-masing orang mandi
sebagaimana mandi pada hari-hari yang lain. Hal khusus yang membedakan hanyalah
niat bersuci untuk menyambut datangnya hari maupun bulan suci itu tadi. Tidak
kurang dan tidak lebih!
Jikalaupun kini padusan memberi kesan dilakukannya mandi
massal oleh banyak orang, laki-laki maupun perempuan, pada suatu tempat seperti blumbang, kedukan, mbelik,
sungai,sendang, kolam renang, telaga, bahkan di tepian pantai,
sebenarnya hal tersebut bukan inti dan makna utama sebuah lelaku padusan. Hal seperti itu
saya kira lebih kepada upaya para pelaku bisnis tertentu untuk mendapatkan
keuntungan ekonomi atau bisnis dengan memanfaatkan momentum acara padusan. Banyak sekali contoh
tempat wisata atau taman hiburan air yang mengacarakan padusan yang meriah, bahkan lengkap dengan
aneka ragam jenis tontonan, seperti kesenian tradisional hingga pementasan
musik ndangdutan.
Perkembangan penyampuran antara
tradisi yang bertujuan suci nan mulia dengan kepentingan bisnis ini seringkali
menimbulkan persepsi bahwa tradisi padusan justru menjurus kepada tindak
kemaksiatan. Kemaksiatan yang dimaksud diantaranya terjadinya mandi
bersama-sama pada suatu waktu dan tempat tertentu, terlebih tidak memisahkan
tempat antara kaum laki-laki dan perempuan yang jelas-jelas bukan muhrim
masing-masing. Di samping itu, pentas ndangdutan tertentu juga sering menjurus kepada
tindakan pornoaksi oleh para penyanyi yang menonjolkan aurat ataupun melakukan
goyangan-goyangan erotis yang justru mengumbar dan menimbulkan syahwat.
Maka sudah saatnya pemahaman generasi muda dalam melakukan
tradisi-tradisi adiluhung yang telah diwariskan nenek moyang
harus diluruskan kembali kepada asal muasal dan tujuan sebuah tradisi
dilakukan. Kata kunci yang terpenting dari sebuah tradisi, ambil dan laksanakan
hal-hal yang baik, benar dan indah untuk dilakukan. Sebaliknya tinggalkan dan
jauhi hal-hal yang jelek, salah dan menyimpang dari ajaran agama dari sesuatu
yang melekat dalam pelaksanaan sebuah tradisi. Bukankah
sebuah tradisi kebaikan digagas oleh nenek moyang untuk semakin meningkatkan
harkat dan derajat ummat manusia, menjadi manusia yang sesungguhnya manusia.
Tradisi mengantar manusia kepada hakekat sejati.
E. Tradisi Nyadran
Tradisi ini biasanya dilakukan
setiap hari ke-10 pada bulan Rajab. Acara diawali dengan doa bersama (tahlil)
yang dipimpin sesepuh dusun setempat. Dalam doa itu mereka bersama-sama
memanjatkan doa untuk kakek, nenek, bapak, ibu, serta saudara-saudara mereka
yang sudah meninggal, khususnya yang dimakamkan di pemakaman Dusun Sorobayan.
Seusai berdoa, semua warga lantas
menggelar genduren (kenduri) atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah
digelari tikar dan daun pisang. Tiap-tiap keluarga membawa makanan sendiri.
Uniknya, makanan yang dibawa harus
berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambar goreng ati, mangut,
urap sayuran dengan lauk rempah, perkedel, tempe tahu bacem, dan lain
sebagainya.
Genduren ini bermakna kalau
masyarakat di desa tersebut masih menjujung tinggi rasa kerukunan antarwarga.
Inilah kesempatan kita berkumpul dalam satu waktu dengan seluruh kerabat dan
tetangga. Bahkan, sudah menjadi tradisi mudik bagi warga yang merantau ke luar
kota.
Suasana kerukunan memang tampak
pada kegiatan ini. Mereka saling tukar makanan, berbagi, bercanda, dan melepas
rindu dengan kerabat yang pulang dari perantauan. Selain warga Dusun Sorobayan.
Tradisi ini juga diikuti oleh warga sekitar seperti Dusun Tampingan, Ngepos,
Banyuurip, hingga Canguk Kota Magelang.
Nyadran atau Sadranan berasal dari kata "Sodrun" yang artinya gila atau tidak waras. Pada masa sebelum datangnya walisongo, masyarakat di Pulau Jawa banyak yang masih menyembah pohon, batu, bahkan binatang, dan itu dianggap tidak waras.
Nyadran atau Sadranan berasal dari kata "Sodrun" yang artinya gila atau tidak waras. Pada masa sebelum datangnya walisongo, masyarakat di Pulau Jawa banyak yang masih menyembah pohon, batu, bahkan binatang, dan itu dianggap tidak waras.
Ketika itu mereka menyembah sambil
membawa sesaji berupa makanan dan membaca mantra-mantra. Kemudian datang para
walisongo yang meluruskan bahwa ajaran mereka salah, yang wajib disembah hanya
Allah SWT.
Mantra-mantra yang dibaca lantas
diganti dengan doa-doa menurut ajaran Islam. Sedangkan sesaji diganti berupa
makanan yang bisa dimakan oleh warga. Inilah salah satu bentuk dakwah walisongo
yang masih melestarikan budaya lokal.
tradisi nyadran ini dimaksudkan untuk mengajarkan pada muda-mudi di daerah tersebut bagaimana hidup rukun dengan sesama.
tradisi nyadran ini dimaksudkan untuk mengajarkan pada muda-mudi di daerah tersebut bagaimana hidup rukun dengan sesama.
F. Tradisi Supitan
Tradisi Supitan atau Khitanan ini diperuntukkan
untuk anak laki-laki. medis, khitanan merupakan tindakan operasi
kecil dengan memotong “sang kulup” alias kulit penutup alat kelamin
pria. Dari sudut pandang kesehatan, keberadaan kulit kulup ini justru bisa
menghalangi proses pembersihan alat vital setelahbebuang atau kencing. Pembersihan yang tidak
tuntas pada bagian tersebut jelas akan menjadi sumber penyakit yang sangat
membahayakan alat vital.
Secara sosioreligi, khususnya
bagi ummat Islam, proses sunatan merupakan sebuah amalan agama sebagaimana
telah dicontohkan semenjak Nabi Ibrahim AS. Penghilangan kulit skortum
berhubungan langsung dengan pensucian badan sebagai syarat mutlak pelaksanaan
ibadah, terutama sholat. Sebagaimana kita ketahui, air kencing termasuk najis
yang dapat membatalkan wudhu seseorang. Oleh karena itu selepas buang air
kecil, alat vital harus dibersihkan secara tuntas dari sisa-sisa air seni.
Dengan disunatnya si kulup, maka pelaksanaan pembersihan alat vital lebih mudah
dan kebersihannyapun lebih terjamin.
Sunatan juga bisa dimaknai
sebagai garis batas peralihan antara dunia bocah menuju kepada dunia remaja
atau usia baligh. Dalam hukum Islam, baligh merupakan salah satu persyaratan
bagi seseorang yang terkena hukum dan aturan agama. Usia baligh dipahami
sebagai usia dimana seseorang sudah memiliki kesadaran pemikiran secara penuh
maupun pengetahuan mengenai perbuatan yang haq dan bathil,
bisa membedakan yang benar dan salah. Hal inilah yang menjadikan manusia Jawa
secara sosiokultural memaknai sunatan sebagai prosesi pengislaman, maka sunatan
atau supitan sering dijawakan denganngislamake.
Bagi masyarakat Jawa, ngislamake bukanlah sebuah prosesi main-main.
Maka untukngislamake diperlukan ewuh alias hajatan. Inti dari hajatan
khitanan sesungguhnya adalah selamatan pengikraran doa yang dipanjatkan kepada
Gusti Allah agar prosesi pengkhitanan diberikan kelancaran, luka sunnat lekas
mengering dan sembuh, sehingga si bocah bisa segera beraktivitas sebagaimana
biasanya. Namun secara lebih mendalam juga termuat harapan, bahwa si bocah yang
telah memasuki usia baligh dapat menjadi anak yang taat beribadah, turut mituhu
dan menjadi anak sholeh bagi kedua orang tuanya, serta kelak dapat menjadi
manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara, khususnya agama
Islam. Doa inilah yang biasa dipanjatkan oleh Pak
Kaum yang ngruusidoa pada saat kenduri
diselenggarakan di awal hajatan untuk memohonkan keselamatan.
Sebagaimana acara hajatan yang
lain, kenduri merupakan selamatan pembuka sebelum sebuah hajatan dimulai. Uba
rampe atau kelengkapan kenduri tidak berbeda dengan selamatan yang lain, nasi
tumpeng atau ambeng, sayur, mihun, thontho, peyek, keper, srundeng, dan krupuk.
Ada juga ketan, apem, jenang gurih, hingga beberapa jenis jajanan pasar. Semua
perlengkapan kenduri tersebut biasa di tempatkan di atas ancak atau anyaman
bambu yang dimasa kini telah banyak digantikan dengan besek atau bakul plastik
kecil. Penggunaan ancak di masa lalu inilah yang menjadikan sebagian orang
mengistilahkan kenduri dengan bancakan.
Melalui undangan secara lisan
langsung ke rumah warga oleh seorang utusan yang bertugas undang-undang
genduren, maka berkumpullah perwakilan dari keluarga para tetangga. Pada saat
yang telah ditentukan, bisa ba’da Ashar, Maghrib ataupun Isya’ kendurian
dilaksanakan. Semua hadirin berkumpul di ruang utama sambil ngepung atau
melingkari perlengkapan kenduri, hal inilah yang menjadikan kenduri juga
disebut sebagai acara kepungan.
Dalam hajatan khitanan yang
diselenggarakan secara besar-besaran, diundanglah semua tetangga dan kerabat
melalui undangan yang disebarkan. Sangat tergantung seberapa banyak undangan
yang disebar, maka hajatab khitanan bisa berlangsung selama 4-5 hari. Acara
lebih meriah lagi jika disertai dengan tanggapan tontonan atau pertunjukan seni
tradisional seperti wayang
kulit, janthilan, kubro siswo, campur, ataupun kethoprak.
Malam pelaksanaan khitanan
disebut sebagai malem pegasan. Megas atau megesmemiliki
arti memotong atau mengiris. Malam pegasan merupakan malam puncak hajatan
khitanan. Khitanan di masa lalu lebih banyak dilakukan oleh tukang khitan yang
disebutBong Supit. Profesi ini bagi orang Betawi lebih dikenal sebagai tukang bengkong. Di malampegasan, Pak Bong datang ke rumah pemilik hajatan.
Proses pegasan dilaksanakan di dalam ruang atau kamar
tertentu dengan disaksikan kerabat dekat. Pada saat yang bersamaan, para
bapak-bapak satu dusun njagong atau berkumpul sambil lek-lekan,
bergadang hingga tengah malam.
Peralatan khitan yang masih
serba tradisional di masa lalu menjadikan luka bekas khitan harus menunggu
beberapa hari untuk kering dan sembuh. Hal inilah yang menjadikan gerak dan
aktivitas si bocah yang dikhitankan menjadi sangat terganggu. Bahkan agar rasa
sakit akibat gesekan terhadap “bungkusan perban”, si bocah harus
senantiasa mengenakan kain sarung. Obat luka khitan andalan di masa lalu
hanyalah serbuk putih yang dikenal sebagai obat supit dengan merk “sulfatilamit”.
Dengan demikian, khitan merupakan sebuah ujian yang tidak ringan bagi kelulusan
seorang bocah untuk menginjak usia akil baligh.
Lain dulu memang jelas lain
sekarang. Pelaksanaan khitan tidak sesakral dan sesuci di masa lalu. Memang
khitanan masih dimaknai sebagai pelaksanaan ibadah agama, tetapi tradisi dan
pemaknaan sosial budayanya telah mengalami pergeseran bahkan pendangkalan
sehingga unsur pendidikan moralitas dalam peristiwa khitanan tidak lagi
diketahui oleh generasi masa kini. Pragmatisme kehidupan memang menggiring
manusia untuk melakukan sesuatu lebih kepada pertimbangan keenomisan dan
kepraktisan semata. Khitanan cukup dilakukan dengan selamatan dan doa sederhana
dengan persaksiaan 5-8 tetangga dan si bocah langsung diantar ke dokter, gresss, dan selesai sudah
prosesi khitanan. Demikian halnya peralatan dan metode khitan yang telah
canggih tidak menimbulkan luka yang berkepanjangan, sehingga khitan bukan lagi
menjadi sebuah ujian yang maha berat bagi seorang bocah untuk dapat memasuki
dunia akil baligh yang menuntut kedewasaan yang lebih tinggi sebagai anak
manusia. Beginilah sebuah keniscayaan roda jaman yang harus terus berputar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
kebudayaan yang ada di Magelang tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa di
Magelang mempunyai banyak kebudayaan atau tradisi turun temurun yang masih
dilakukan hingga sekarang diantaranya Tradisi Grebeg Gethuk Magelang yang merupakan rangkaian puncak memperingati Hari jadi Kota
Magelang. Kemudian ada Tradisi grebeg
gulai kambing yang merupakan tradisi untuk menghormati leluhur desa yang telah
meninggal. Tradisi kendurenan, yaitu doa
bersama yang di hadiri para tetangga dan di pimpin oleh pemuka adat atau yang
di tuakan di setiap lingkungan, dan yang di sajikan berupa Tumpeng lengkap
dengan lauk pauknya yang mempunyai tujuan meminta selamat untuk yang di
doakan, dan keluarganya. Macam kendurenan antara lain kenduren wetonan, Kenduren
Sabanan ,Kenduren Likuran , Kenduren Badan ( Lebaran ), Kenduren Ujar/tujuan
tertentu, Kenduren Muludan. Tradisi Padusan yang berarti mandi atau
mensucikan diri sehari sebelum datangnya bulan Ramadhan. Tradisi Nyadran yang
biasanya dilakukan setiap hari ke-10 bulan Rajab. Tradisi Supitan yang
diperuntukkan untuk anak laki-laki, merupakan tindakan operasi kecil dengan
memotong kulit penutup alat kelamin pria. Dalam tradisi ini digelar pula acara
seni contohnya kesenian jathilan, topeng ireng atau kubro siswo untuk
memeriahkan acara sunatan, tetapi ada juga yang menggelar acara pengajian .
Kebudayaan atau tradisi yang ada di masyarakat sangatlah
beragam , tetapi dengan keberagaman tradisi yang ada di masyarakat ini
menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya. Kebudayaan atau tradisi
diatas dimaksudkan untuk saling merukunkan atau mempererat tali persaudaraan
antar manusia di lingkungannya.
B. Kritik dan Saran
Sebagai warga negara sekaligus manusia
yang hidup di masyarakat hendaknya kita melesatarikan kebudayaan dan tradisi yang
ada di masyarakat, menghargai sesama
manusia agar tercipta suatu integrasi sosial sehingga tercapai lah keserasian
dan keharmonisan di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA